Selasa, 15 Januari 2013

SELF ESTEEM (Coopersmith)

2.1.1    Pengertian Self Esteem
Istilah self esteem sering digunakan para ahli untuk menandakan bagaimana seseorang mengevaluasi dirinya. Evaluasi ini akan memperlihatkan bagaimana penilaian individu tentang penghargaan terhadap dirinya, percaya bahwa dirinya memiliki kemampuan atau tidak, adanya pengakuan (penerimaan) atau tidak. Definisi self esteem menurut Coopersmith (1967: 4-5) :

Self esteem we refer to the evaluation which the individual makes and customarily maintains with regard to himself : it expresses an attitude of approval or disapproval, and indicates the extent to which the individual believes himself to be capable, significant, successful and worthy. In short, self esteem is a personal judgment of worthiness that is expressed in the attitudes the individual holds toward himself ”.

Self esteem merupakan evaluasi yang dibuat individu dan kebiasaan memandang dirinya terutama mengenai sikap menerima atau menolak, dan indikasi besarnya kepercayaan individu terhadap kemampuannya, keberartian, kesuksesan dan keberhargaan. Secara singkat self esteem adalah “personal judgment” mengenai perasaan berharga atau berarti yang di ekspresikan dalam sikap-sikap individu terhadap dirinya.

2.1.2    Proses Pembentukan Self- Esteem
Self-esteem menurut Brisset (1972), mencakup dua proses psikologi mendasar yaitu :
1.                  Proses dari evaluasi diri (self-evaluation)
2.                  Proses dari penghargaan diri (self –worth)

Ada tiga faktor utama yang berhubungan dengan self-evaluation yaitu :
1.                  Perbandingan self-image dengan ideal image yaitu perbandingan gambaran diri dari keadaan diri yang seseorang kenal atau kenyataan yang dirasakan dan gambaran diri yang seseorang inginkan. Self-image individu berkenaan dengan karakteristik fisik dan mentalnya. Proses perkembangan self-image telah ditunjukan Cooley, 1974 (dalam Coopersmith, 1967) sebagai gambaran diri individu yang dimiliki individu melalui interaksinya dengan lingkungannya. Individu mendapat feed back dan pengesahan mengenai perilakunya dari orang-orang sekitarnya. Interpretasi yang dilakukan oleh seseorang terhadap penilaian lingkungan akan mempengaruhi dan membentuk self-esteem. Ideal-self  adalah  suatu set interpretasi dari individu sebagai pernyataan akan keinginan-keinginan dan aspirasi-aspirasi sebagai bagian dari kebutuhannya.
Individu yang dapat berbuat sesuatu dengan standar-standar mereka dan menyadari aspirasi-aspirasi mereka sehingga akan berkembang menjadi orang dengan perasaan self-esteem yang tinggi. Sedangkan individu yang mendapatkan bahwa mereka tidak memiliki sifat-sifat yang dikehendakinya oleh cita-cita mereka, tidak menyadari kapasitasnya dan bersikap tidak realistis terhadap kehidupannya dan mudah merasakan  ketidakpuasan, kemungkinan besar akan  memiliki perasaan self-esteem yang rendah.

2.                  Internalisasi dari sociaty’s judgement. Dalam pengertian ini self-evaluation ditentukan oleh keyakinan-keyakinan individu mengenai bagaimana orang lain mengevaluasi dirinya. Disini individu menilai dirinya sendiri sejak ia berinteraksi dengan lingkungannya. Standar nilai yang terinternalisasikan menjadi suatu kendala tingkah laku yang diperoleh dari lingkungan sosial sesuai dengan tahap perkembangan.

3.                  Evaluasi terhadap kesuksesan dan kegagalan dalam melakukan sesuatu sebagai bagian dari identitas diri, hal ini tidak hanya individu melakukan sesuatu dari apa yang membuat dirinya merasa berarti tetapi juga secara sosial, hal ini memberikan suatu kekuatan yang dapat meningkatkan  rasa penghargaan terhadap diri. Pola ini terjadi dari penyesuaian individu dengan adanya kebutuhan-kebutuhan dalam diri individu terhadap struktur sosial, hal ini akan memuaskan individu.

Proses psikologis kedua yaitu self-worrth, adalah perasaan bahwa diri atau self itu penting dan efektif serta melibatkan pribadi yang sadar akan diri sendiri. Self-worth ini akan lebih mendasar dari self-evaluation karena melibatkan suatu pandangan dari diri seseorang dalam menguasai suatu tindakannya, perasaan kompetisi yang muncul dalam diri (intrinsik) tidak sekedar bergantung pada lingkungan atau pandangan yang bersifatnya eksternal. Masing-masing proses tersebut saling melengkapi satu sama lain. Brisset, 1972 (dalam Coopersmith, 1967) menyatakan bahwa self-worth lebih mendasar pada diri manusia dari pada self-evaluation.

Proses pembentukan self-esteem tidak selalu berjalan mulus tanpa hambatan. Terdapat beberapa faktor yang menghambat pertumbuhan self-esteem. Menurut Nathaniel Braden, 1969 (dalam Coopersmith, 1967) hal-hal yang dapat menghambat pembentukan self esteem adalah :

·                     Perasaan takut
Dalam kehidupan sehari-hari kita harus menempatkan diri di tengah-tengah kenyataan. Cara menempatkan diri ini berbeda bagi setiap individu. Ada yang menghadapi fakta-fakta kehidupan dengan penuh keberanian akan tetapi ada juga yang menghadapi dengan perasaan yang tidak berdaya. Pangkal dari pada perasaan tidak berdaya ini adalah negatif terhadap dirinya sehingga individu hidup dalam ketakutan. Ketakutan ini akan mempengaruhi alam perasaan individu, sehingga akan mengganggu keseimbangan alam emosinya, dan dalam keadaan emosi yang labil, individu tidak dapat berfikir secara wajar, segala sesuatu diluar dirinya dipersepsikan secara distorted. Kecemasan ini akan membuat individu ragu-ragu yang berarti tidak menunjang pembentukan self esteem.

·                     Perasaan bersalah
Ada 2 macam perasaan bersalah digolongkan menurut cara individu mengalaminya yaitu :
1.                  Perasaan salah karena melanggar nilai-nilai moral sendiri. Perasaan ini dimiliki individu yang mempunyai pegangan hidup berdasarkan kesadaran dan keyakinan sendiri. Individu telah menentukan kriterianya mengenai mana yang baik dan buruk baginya. Jadi individu merasa bersalah terhadap keyakinan sendirinya.
2.                  Individu menghayati kesalahannya sebagai pelanggaran terhadap nilai-nilai kehidupan yang tidak ditanamkan oleh orang-orang penting dalam kehidupannya. Apabila anak di didik untuk mengekspresikan dirinya secara bebas, maka anak akan mengatasi secara represif yaitu mencoba melupakan, menghilangkannya dalam alam bawah sadar. Rasa bersalah akan bertambah besar dan lambat laun akan menjelma dalam bentuk kecemasan.

2.1.3    Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Self Esteem
Menurut Coopersmith (1967:37-43) self esteem dalam perkembangannya terbentuk dari hasil interaksi individu dengan lingkungan dan atas sejumlah penghargaan, penerimaan, dan pengertian orang lain terhadap dirinya. Berdasarkan teori-teori dan penelitian sebelumya mengarahkan Coopersmith (1967) untuk menyimpulkan 4 faktor utama yang memberi kontribusi pada perkembangan self esteem, yaitu:
1.                  Respectful, penerimaan, dan perlakukan yang diterima individu dari Significant Others.
Significant Others adalah orang yang penting dan berarti bagi individu, dimana ia menyadari peran mereka dalam memberi dan menghilangkan ketidaknyamanan, meningkatkan dan mengurangi ketidakberdayaan. Serta meningkatkan dan mengurangi keberhargaan diri. Self Esteem bukan merupakan faktor yang dibawa sejak lahir, tetapi merupakan faktor yang dipelajari  dan terbentuk dari pengalaman individu ketika berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Dalam berinteraksi tersebut akan terbentuk suatu penilaian atas dirinya berdasarkan reaksi yang ia terima dari orang lain.

Keluarga merupakan lingkungan sosial yang pertama bagi anak. Perilaku yang diberikan orang tua kepada anaknya akan membentuk self esteem si anak. Jika hubungan orang tua dan anak merupakan hubungan interpersonal pertama yang dialami memberikan kesan buruk bagi anak, maka hal tersebut dapat mempengaruhi penilaian dirinya dikemudian hari. Oleh karena itu orang tua merupakan Significant Others yang utama dalam perkembangan self esteem anak. Tetapi self esteem anak belum terbentuk sepenuhnya terbentuk dan masih dapat berubah. Setelah si anak masuk kepada masa tengah dan akhir, apalagi setelah memiliki lingkungan sosial (baik di sekolah maupun di masyarakat), pengaruh kelompok teman sebaya mulai menggantikan peran orang tua sebagai orang-orang yang berpengaruh terhadap self esteem anak. Pada masa-masa tersebut anak dituntut untuk mampu berkompetisi dan kompeten untuk mendapat penghargaan dari teman-teman yang akan mempengaruhi juga terhadap penilaian dirinya. Seseorang yang merasa dirinya dihormati, diterima dan diperlakukan dengan baik akan cenderung membentuk self esteem  yang tinggi, dan sebaliknya seseorang yang diremehkan, ditolak dan diperlakukan buruk akan cenderung akan membentuk self esteem yang rendah.

2.                  Sejarah keberhasilan, status dan posisi yang pernah dicapai individu.
Keberhasilan, status dan posisi yang pernah dicapai individu tersebut akan membentuk suatu penilaian  terhadap dirinya, berdasarkan dari penghargaan yang diterima dari orang lain. Status merupakan suatu perwujudan dari keberhasilan yang diindikasikan dengan pengakuan dan penerimaan dirinya oleh masyarakat.

3.                  Nilai-nilai dan aspirasi-aspirasi.
Pengamalan-pengalaman individu akan diinterpretasi dan dimodifikasi sesuai dengan nilai-nilai dan aspirasi yang dimilikinya. Individu akan memberikan penilaian yang berbeda terhadap berbagai bidang kemampuan dan prestasinya. Perbedaan ini merupakan fungsi dari nilai-nilai yang mereka internalisasikan dari orang tua dan individu lain yang signifikan dalam hidupnya. Individu pada semua tingkat self esteem mungkin memberikan standar nilai yang sama untuk menilai keberhargaannya, namun akan berbeda dalam hal bagaimana mereka menilai pencapaian tujuan yang telah diraihnya.

4.               Cara individu berespon devaluasi terhadap dirinya.
Individu dapat mengurangi, mengubah, atau menekan dengan kuat perlakuan yang merendahkan diri dari orang lain atau lingkungan, salah satunya adalah ketika individu mengalami kegagalan. Pemaknaan individu terhadap kegagalan tergantung pada caranya mengatasi situasi tersebut, tujuan, dan aspirasinya. Cara individu mengatasi kegagalan akan mencerminkan bagaimana ia mempertahankan harga dirinya dari perasaan tidak mampu, tidak berkuasa, tidak berarti, dan tidak bermoral. Individu yang dapat mengatasi kegagalan dan kekurangannya adalah dapat mempertahankan self esteemnya.

2.1.4    Komponen Self Esteem
Menurut Coopersmith (1967), ada empat komponen yang menjadi sumber dalam pembentukan Self esteem individu. Keempat komponen itu adalah keberhasilan (Successes), Nilai-nilai (value), Aspirasi-aspirasi (Aspirations), dan pendekatan dalam merespon penurunan penilaian terhadap diri (Defences).
a.                   Successes
Kata “keberhasilan” memiliki makna yang berbeda-beda pada setiap orang. Beberapa individu memaknakan keberhasilan dalam bentuk kepuasan spiritual, dan individu lain menyimpulkan dalam bentuk popularitas. Pemaknaan yang berbeda-beda terhadap keberhasilan ini disebabkan oleh faktor individu dalam memandang kesuksesan dirinya dan juga dipengaruhi oleh kondisi-kondisi budaya yang memberikan nilai pada bentuk-bentuk tertentu dari kesuksesan. Dalam satu setting social tertentu, mungkin lebih memaknakan keberhasilan dalam bentuk kekayaaan, kekuasaan, penghormatan, independen, dan kemandirian. Pada konteks social yang lain, lebih dikembangkan makna ketidakberhasilan dalam bentuk kemiskinan, ketidakberdayaan, penolakan, keterikatan pada suatu bentuk ikatan social dan ketergantungan. Hal ini tidak berarti bahwa individu dapat dengan mudahnya mengikuti nilai-nilai yang dikembangkan dimasyarakat mengenai keberhasilan, tetapi hendaknya dipahami bahwa masyarakat memiliki nilai-nilai tertentu mengenai apa yang dianggap berhasil atau gagal dan dapat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianut oleh individu.
Terdapat empat tipe pengalaman berbeda yang mencoba mendefinisikan tentang keberhasilan. Setiap hal tersebut memberikan kreteria untuk mendefinisikan keberhasilan itu adalah area power, area Significance, area Competence dan area virtue. Berikut ini akan dijelaskan manifestasi keberhasilan dalam keempat area tersebut.

·                     Keberhasilan dalam area Power
Keberhasilan ini diukur oleh kemampuan individu untuk mempengaruhi aksinya dengan mengontrol tingkah lakunya sendiri dan mempengaruhi orang lain. Dalam situasi tertentu, power tersebut muncul melalui pengakuan dan penghargaan yang diterima oleh individu dari orang lain, dan melalui kualitas penilaian terhadap pendapat-pendapat dan hak-haknya. Efek dari pengakuan tersebut adalah menumbuhkan perasaan penghargaan (sense of appreciation) terhadap pandangannya sendiri dan mampu melawan tekanan untuk melakukan konformitas tanpa mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan dan pendapat-pendapatnya sendiri. Masing-masing perlakuan tersebut bisa mengembangkan control sosial, kepemimpinan, dan kemandirian yang mampu memunculkan sikap asertif, energik, tingkah laku, eksplorasi.

·                     Keberhasilan dalam area Significance
Keberhasilan ini diukur oleh adanya penerimaan, perhatian, dan kasih sayang yang ditunjukkan oleh orang lain. Ekspresi dari penghargaan dan minat terhadap individu tersebut termasuk dalam pengertian penerimaan (acceptance) dan popularitas, yang merupakan kebalikan dari penolakan dan isolasi. Penerimaan ditandai dengan kehangatan, responsifitas, minat, dan menyukai individu apa adanya. Dampak utama dari masing-masing perlakuan dan kasih sayang tersebut adalah menumbuhkan perasaan berarti (tense of importance) dalam dirinya. Makin banyak orang menunjukkan kasih sayang, maka makin besar kemungkinan memiliki penilaian diri yang baik.

·                     Keberhasilan dalam area Competence
Keberhasilan ini ditandai oleh tingkat pencapaian yang tinggi, dengan tingkatan, dan tugas yang bervariasi untuk tiap kelompok usia. White, 1959 (dalam Coopersmith, 1967) menunjukkan bahwa pengalaman-pengalaman seorang anak mulai dari masa bayi yang diberikan secara biologis dan rasa mampu (sense of efficacy) yamg memberikannya kesenangan, membawanya untuk selalu berhadapan dengan lingkungan dan menjadi dasar bagi pengembangan motivasi instrinsik untuk mencapai kompetensi yang lebih tinggi lagi. White menekankan pentingnya aktivitas spontan pada seorang anak dalam menumbuhkan perasaan mampu (feeling of efficacy) dan pengalaman-pengalaman dalam pencapaian kemandirian dapat sangat memberikan penguatan terhadap nilai-nilai personalnya dan tidak tergantung pada kekuatan-kekuatan di luar dirinya. Formulasi tersebut tidak menyangkal pentingnya persetujuan dan ketidaksetujuan secara sosial (social approval dan social disapproval), tetapi juga sumber kepuasan yang bersifat bawaan (innate) yang membuatnya menguasai lingkungan tanpa tergantung pada penguatan atau hukuman dari faktor sosial.

·                     Keberhasilan dalam area Virtue
Menurut Coopersmith (1967), keberhasilan ini ditandai oleh tingkah laku patuh pada kode etik, moral, dan prinsip-prinsip agama. Orang yang mematuhi kode etik dan agama dan kemudian menginternalisasikannya, menampilkan sikap diri yang positif dengan keberhasilan dalam pemenuhan terhadap tujuan-tujuan pengabdian terhadap nilai-nilai luhur. Perasaan berharga muncul diwarnai dengan sentiment-sentiment keadilan dan kejujuran, dan pemenuhan terhadap hal-hal yang bersifat spiritual.

Setiap individu memiliki peluang untuk mencapai self esteem yang tinggi dengan mewujudkan pencapaian pada keempat area tersebut. Hal ini juga mungkin dapat terjadi apabila pencapaian pada area-area lain kurang baik. Dengan demikian seseorang dapat mengembangkan sistem diri yang positif jika mendapatkan perhatian yang besar dan cinta dari orang-orang yang dianggap penting, meskipun dia relative lemah, tidak berarti, dan tidak kompeten, atau ia mungkin memiliki self esteem  tinggi dengan kompetensi yang tinggi tanpa mempertimbangkan nilai moral, signifikansi, atau power. Di sisi lain adalah mungkin bagi individu untuk mencapai keberhasilan disuatu area yang menurut dirinya kurang penting, misalnya kompetensi dan dengan demikian dia merasa tidak berharga karena tidak sukses dibidang moral. Indikasi-indikasi ini tidak hanya mengindikasikan pentingnya kreteria dalam menilai suatu kesuksesan tapi mungkin juga memungkinkan adanya konflik satu sama lain. Seseorang yang ingin mencapai kekuasaan tidak akan terlalu menyukai untuk memperoleh afeksi dari sekutu-sekutunya.

b.                  Nilai-nilai (value)
Setiap individu berbeda dalam memberikan pemaknaan terhadap keberhasilan yang ingin dicapai dalam beberapa area pengalaman dan perbedaan-perbedaan ini merupakan fungsi dari nilai-nilai yang diinternalisasikan dari orang tua dan figur-figur signifikan lainnya dalam hidup. Faktor-faktor seperti penerimaan (acceptance) dan respek dari orang tua merupakan hal-hal yang dapat memperkuat penerimaan nilai-nilai dari orang tua tersebut. Hal ini juga mengungkapkan bahwa kondisi-kondisi yang mempengaruhi pembentukan self esteem akan berpengaruh pula dalam pembentukan nilai-nilai yang realistis dan stabil.
Individu akan memberikan pembobotan yang lebih besar pada area-area dimana mereka berhasil dengan baik, dari pembobotan tersebut akan menimbulkan konsekuensi meningkatkan dan membentuk self esteem yang tinggi di bawah kondisi yang bebas memilih dan menekankan pada sesuatu yang lebih penting bagi dirinya. Kondisi ini memungkinkan individu-individu pada semua tingkatan self esteem memberikan standar nilai yang sama untuk menilai kebermaknaannya. Meskipun standar yang dibuat sama, tetapi akan berbeda dalam menentukan bagaimana mereka mencapai tujuan yang ingin diraihnya. Individu bebas memilih nilai-nilai, tetapi karena individu menghabiskan waktu bertahun-tahun dirumah, sekolah, dan kelompok teman sebaya, maka hal ini akan membawanya untuk menerima standar nilai kelompok. Individu memperboleh pemenuhan dan kepuasaan dengan mengunakan standar nilai yang berbeda dan lebih terikat, tetapi ia akan menggunakan standar nilai tersebut sebagai prinsip dasar untuk menilai keberartian dirinya.

c.                   Aspirasi-aspirasi
Menurut Coopersmith (1967), penilaian diri (self judgement) meliputi perbandingan antara performance dan kapasitas actual dengan aspirasi dan standar personalnya. Jika standar tersebut tercapai, khususnya dalam area tingkah laku yang bernilai, maka individu akan menyimpulkan bahwa dirinya adalah orang yang berharga. Ada perbedaan esensial antara tujuan yang terikat secara sosial (public goals) dan tujuan yang bersifat self significant yang ditetapkan individu. Individu-individu yang berbeda tingkat self esteemnya tidak akan berbeda dalam public goalnya, tetapi berbeda dalam personal ideals yang ditetapkan untuk dirinya sendiri. Individu dengan self esteem tinggi menentukan tujuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan individu dengan self esteem yang lebih rendah. Self esteem tinggi berharap lebih pada dirinya sendiri, serta memelihara perasaan keberhargaan diri dengan merealisasikan harapannya daripada sekedar mencapai standar yang ditentukannya. Hal ini memunculkan sikap diri (self attitude) yang lebih baik sehingga mereka tidak diasosiasikan dengan standar personal yang rendah dan menilai sukses karena mencapai standar tersebut. Tetapi karena standar tinggi yang secara objektif dapat dicapainya, individu dengan self esteem tinggi menganggap lebih dekat aspirasi (harapannya) dibandingkan dengan individu dengan self esteem rendah yang menentukan tujuan lebih rendah. Individu dengan self esteem tinggi memiliki pengharapan terhadap keberhasilan yang tinggi. Pengharapan ini menunjukan suatu kepercayaan terhadap keadekuatan dirinya, dan juga keyakinan bahwa ia memiliki kemampuan untuk menampilkan segala macam cara yang dibutuhkan untuk berhasil. Keyakinan tersebut bersifat memberi dukungan dan semangat pada individu untuk mempercayai bahwa keberhasilan itu dapat dicapai. Penghargaan (self expectancy) akan keberhasilan ini ditunjukkan melalui sikap asertif, self trust, dan keinginan kuat untuk bereksplorasi. Sedangkan pada individu dengan self esteem rendah, meskipun memiliki keinginan sukses seperti individu dengan self esteem tinggi, tetapi dia tidak yakni kesuksesan tersebut akan terjadi pada dirinya. Sikap pesimis itu merupakan ekspresi antisipasi terhadap kegagalan, yang mana akan menurunkan motivasinya dan mungkin memberikan konstribusi terhadap kegagalannya.
Hubungan antara aspirasi dan harga diri juga mengungkapkan suatu hal yang menarik. Ada indikasi bahwa orang-orang yang pernah sukses merespon lebih realistis daripada mereka yang pernah gagal. Kita dapat menduga bahwa individu dengan self esteem rendah memiliki harapan (aspirasi) yang lebih rendah, tetapi jika mereka dapat mengantisipasi hal tersebut, maka sangat mungkin bagi individu untuk meningkatkan self esteemnya. Dengan demikian, kita dapat menuju pada asumsi bahwa terdapat jarak antara aspirasi dan performance pada individu dengan self esteem rendah dan bahwa jarak tersebut menghasilkan sesuatu yang negatif.

d.                  Defenses
Menurut Coopersmith (1967), beberapa pengalaman dapat merupakan sumber evaluasi diri yang positif, namun ada pula yang menghasilkan penilaian diri yang negatif. Kenyataan ini tidak akan mudah diamati dan diukur pada tipe individu. Kenyataan ini merupakan bahan mentah yang digunakan dalam membuat penilaian, interpretasi terhadapnya tidaklah senantiasa seragam. Interpretasi akan bervariasi sesuai dengan karakteristik individu dalam mengatasi distress dan situasi ambigu serta dengan tujuan dan harapan-harapannya. Cara untuk mengatasi ancaman dan ketidakjelasan cara individu dalam mempertahankan dirinya mengatasi kecemasan atau lebih spesifik, mempertahankan harga dirinya dari devaluasi atau penurunan harga diri yang membuatnya merasa incompetent, tidak berdaya, tidak signifikan, dan tidak berharga. Individu yang memiliki defence mampu mengeliminir stimulus yang mencemaskan, mampu menjaga ketenangan diri, dan tingkah lakunya efektif. Individu dengan self esteem tinggi memiliki suatu bentuk mekanisme pertahanan diri tertentu yang memberikan individu tersebut kepercayaan diri pada penilaian dan kemampuan dirinya, serta meningkatkan perasaan mampu untuk menghadapi situasi yang menyulitkan.

Coopersmith, 1967, mengungkapkan bahwa proses penilaian diri muncul dan penilaian subjektif terhadap keberhasilan, yang dipengaruhi oleh nilai yang diletakkan pada berbagai area kapasitas dan tampilan, diukur dengan membandingkan antara tujuan dan standar pribadi, dan disaring melalui kemampuan untuk mempertahankan diri dalam menghadapi kegagalan. Melalui proses tersebut akhirnya individu sampai pada penilaian tentang kemampuan, keberartian, kesusesan, dan keberhargaan dirinya.

daftar pustaka : Coopeersmith, Stanley. 1967. The Antecendents of Self Esteem.

15 komentar:

  1. boleh tau buku referensinya? dan ada dimana?
    terima kasih.

    BalasHapus
  2. maaf baru membalas sekarang.

    ini buka lama sudah jarang diperjualbelikan, kecuali membeli dari luar negeri, dan mahal tentunya. namun alternatifnya anda dapat meminjam buku pada universitas TUA atau pada universitas yang terdapat jurusan psikologi seperti UNPAD, UI, MARANATHA, UNJANI
    ini judul bukunya, didalamnya juga ada alat ukur SEI (self esteem inventory)
    Coopeersmith, Stanley. 1967. The Antecendents of Self Esteem.

    BalasHapus
  3. teori ini apa bisa dipakai untuk remaja. . . .?

    BalasHapus
  4. teori nya bagus.. ada buku nya gak yah?
    lumayan buat bahan skripsi gue :D

    BalasHapus
  5. ada bukunya, cuma kl di perjual belikan, mungkin harus cari2 di situs luar negeri, mending pinjam di universitas yang ada fakultas psikologinya aja , , , pasti ada, judul bukunya Coopeersmith, Stanley. 1967. The Antecendents of Self Esteem

    BalasHapus
  6. thanks untuk postingannya. ngebantu banget. sebelumnya km sumber postingan ini langsung dari bukunya? kamu dapet bukunya dimana? perpustakaan UNPAD kira-kira ada ga ya? trims

    BalasHapus
  7. dari skripsi saya sendiri kebetulan pake self esteem, tepatnya "self esteem pada remaja overweight"

    ya dari buku coopersmithnya, ia ada di unpad, maranatha juga ada, unjani juga ada, kayaknya teori ini udah umum ya, di universitas yg ada jurusan psikologi nya kayaknya musti ada. cuma paling masih jarang yang memasukkan komponen, paling masih yang power significance virtue sama competence..... cara tercepat kalau buat bikin skripsi mah, liat skripsi orang lain yang pakai teori yang sama dengan kamu. trims juga, ^sama-sama^

    BalasHapus
  8. mbak bisa minta nomor kontaknya? terimakasih

    BalasHapus
  9. makasih cuantik, semoga menjadi aal kebaikan kalau boleh tante mau fotocopy bukunya, alamat rumahnya dimana atau tolong copykan uang nanti kirim melalui rekeninjg, makasih...

    BalasHapus
  10. maaf mbak mau tanya kalo untuk skoring penilaian self esteem coopersmith itu ada berapa ya? apa hanya 3 (tinggi, sedang, rendah) tp yg saya dapat untuk instrumen ada 5 skoring tapi jd bingung teori nya,, mungkin ada yang bisa bantu?

    BalasHapus
  11. makasih infonya..berguna banget
    aku izin copas yah..

    BalasHapus
  12. Maaf mbak, apa boleh bagi kontak mbak? Saya butuh buku ini, sudah saya coba cari di perpus Unpad melaui saudara saya yg kuliah disana tp belum dapat bukunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bantu jawab yaaa.. Ada di perpus psikologi UNPAD Jatinangor mbak. Minta di-copy saja bukunya

      Hapus
  13. kalau buat kisi-kisi buat bikin instrumentnya perpedoman yang mana yah ? bingung mohon bantuannya

    BalasHapus