Selasa, 15 Januari 2013

Body image


 2.1.         Body image
2.1.1        Pengertian Body image
Konsep body image telah banyak digunakan oleh para ahli untuk meneliti penghayatan manusia tentang tubuhnya sendiri. Body image adalah fenomena multidimensi yang melibatkan aspek kognitif, afektif dan attitude. (Cash, 2002)
Body image is a complex concept that affect how people feel about themselves how they behave. It has been defined as “ the picture of our own body which we form in our mind” (Cash and Pruzinsky, 1990)
Yang berarti body image merupakan konsep yang kompleks yang mempengaruhi bagaimana perasaan seseorang mengenai tubuhnya dan bagaimana mereka bertingkah laku. Dapat didefinisikan sebagai “gambaran tubuh seseorang yang dibentuk melalui pikirannya sendiri” (Cash & Pruzinsky, 1990).
Menurut Keaton, Cash dan Brown mengatakan body image memiliki dua komponen  yaitu :
1.      Komponen persepsi, meliputi bagaimana individu menggambarkan kondisi fisiknya yaitu mengukur tingkat keakuratan persepsi seseorang dalam mengestimasi ukuran tubuh seperti tinggi atau pendek, cantik atau jelek, putih atau hitam, kuat atau lemah. Bila ada gangguan pada komponen persepsi, maka gangguan body image yang dialami adalah distorsi body image. Apabila individu mengalami distorsi body image (body image distortion) maka ia tidak mampu memperkirakan (mengestimasi) ukuran tubuhnya secara tepat (Cash dkk, 2003). Komponen persepsi dalam body image melibatkan komponen sensory dan non sensory. Komponen sensory mengacu pada respon sistem penglihatan, termasuk retina dan korteks. Sedangkan komponen nonsensory kadang-kadang dikarakteristikan sebagai faktor kognitif atau afektif yang mengacu pada interpretasi otak pada input visual.
2.      Komponen sikap, yaitu berhubungan dengan kepuasan dan ketidakpuasan individu terhadap bagian-bagian tubuh yang meliputi wajah, mata, bibir, hidung, mata, rambut dan keseluruhan tubuh yang meliputi proporsi tubuh, bentuk tubuh, penampilan fisik. Bila ada gangguan pada komponen sikap, maka gangguan body image yang dialami adalah ketidakpuasan tubuh (body image dissatisfaction), ketidakpuasan body image dapat dilihat dari bagaimana individu menilai tubuhnya. Bila individu menilai penampilan tidak sesuai dengan standar pribadinya, maka ia akan menilai rendah tubuhnya. Ketidakpuasan individu terhadap tubuhnya dapat menyebabkan individu mempunyai harga diri yang rendah atau bahkan depresi, kecemasan sosial dan menarik diri dari situasi sosial (Cash dkk, 2003). Jadi ketidakpuasan akan bentuk tubuh muncul jika ada gangguan pada komponen sikap.
Muth & Cash (1997) Komponen sikap body image terdiri dari dua dimensi, yaitu body image evaluation dan body image investment. Evaluasi mengarah pada penilaian individu mengenai penampilan fisiknya yang menghasilkan perasaan kepuasan dan ketidakpuasan tubuh. Cash & szymanski (1995 dalam Cash, 2002) menyatakan bahwa evaluasi body image  berakar dari derajat kesenjangan dan kesesuaian antara karakter fisik diri yang diyakini individu dan nilai fisik ideal yang dihargai oleh individu. Dimensi evaluation/affect terdiri dari sejumlah konsep seperti kepuasan tubuh secara global, emosi yang kaitannya dengan self-evaluation tubuh, ketidakpuasan terhadap beberapa aspek tubuh, kesenjangan antara persepsi tubuh dan tubuh ideal yang diinternalisasikan, serta penilaian kognitif yang berkaitan dengan penampilan. Ketidakpuasaan body image yang diungkapkan melalui dimensi evaluasi merupakan aspek yang penting karena diyakini dapat menangkap pengalaman internal individu (Thompson,1999)
Sedangkan body image investment mengacu pada penilaian individu terhadap tubuhnya melalui pikiran, perasaan, maupun tindakan seseorang dalam usaha untuk mengatur dan meningkatkan penampilannya. Dimensi investment meliputi penilaian kognitif seseorang pada penampilan, perhatian pada penampilan, pentingnya penampilan pada diri seseorang dan manifestasi tingkah laku seseorang dalam usaha untuk mengatur dan meningkatkan penampilannya (Muth & Cash, 1997).
Beberapa strategi yang dilakukan dalam investment adalah :
1.      Suplemen
Penggunaan suplemen merupakan salah satu cara yang digunakan untuk meningkatkan ukuran tubuh dan otot. Seperti :
-          Creatin, adalah suplemen yang digunakan untuk meningkatkan dan membentuk otot-otot.
-          Ephedrine, adalah suplemen yang digunakan untuk menurunkan lemak tubuh. Biasanya suplemen ini digunakan oleh laki-laki yang melakukan fitness. Ephedrin merupakan zat dengan struktur kimia yang mirip dengan amfetamin dan bertindak sebagai stimulan sistem saraf simpatik (Rawson & Clarkson, 2000). Ephedrin menimbulkan efek samping terhadap fisik dan psikologis seperti : mudah tersinggung, sulit tidur, ketergantungan, sakit kepala, mual, muntah, gelisah, dan gangguan saluran kemih (Physician.s Desk Reference, 2000). Bahkan bisa menimbulkan masalah yang lebih serius meliputi psikosis, kejang, stroke, infark miokard, dan kematian (Rawson & Clarkson, 2000).
-          insulin, merupakan jenis suplemen lain yang juga digunakan untuk meningkatkan masa tubuh. Pada penelitian O’Dea and Rawstorne (2001) menemukan bahwa 5% laki-laki remaja dalam penelitian mereka dilaporkan menggunakan obat-obatan seperti pil atau insulin, untuk meningkatkan masa tubuh mereka. Prohormones merupakan hormon sintetis yang memiliki struktur kimia yang mirip dengan steroid anabolic. Prohormones zat ilegal seperti steroid dan sudah tersedia untuk pembelian di toko nutrisi. Penggunaan prohormon memiliki efek samping pada tubuh, efek yang ditimbulkannya sama seperti penggunaan steroid (King et al, 1999.).
-          Anabolic steroid (untuk menambah masa otot) dll. Anabolic steroid dapat bekerja dengan cepat dan dapat menghasilkan otot lebih besar. Manfaat yang didapat dari penggunaan steroid yaitu menurunnya presentase lemak dalam tubuh, kekuatan meningkat, dan meningkatkan otot tanpa lemak (Kulipers, Wijnen, Hartgens, & Willems, 1991). Peningkatan ukuran dan kekuatan otot tersebut tidak menetap maksudnya harus menggunakan steroid secara terus-menerus, apabila penggunaan dihentikan maka akan terjadi penurunan pada otot (Evans, 1997). Penelitian menemukan bahwa individu yang menggunakan steroid memiliki perasaan puas pada ukuran tubuhnya dibandingkan  dengan individu yang tidak menggunakan steroid (Brower dkk, 1994.). sehingga dapat menyebabkan kecanduan bagi individu yang menggunakannya. Namun, Kecanduan ini dapat membahayakan individu karena penggunaan steroid dalam jangka panjang dapat menimbulkan efek samping terhadap fisik dan psikologisnya. Efek samping terhadap fisik seperti jerawat, gynaeocomastia, stretch marks, sterility (kemandulan), jantung, diabetes, dan kanker. Sedangkan efek psikologis yang ditimbulkan seperti depresi, kecanduan, agresi, psikosis, bahkan sampai bunuh diri (Blouin & Goldfield, 1995; Brower et al, 1994). Oleh karena itu, penggunaaan suplemen adalah strategi investasi yang penting untuk mengukur tingkat keinginan seseorang untuk menjadi berotot.
2.      Diet, merupakan strategi investmen lain yang digunakan individu. Berbagai macam diet dilakukan oleh individu untuk mencapai berat badan yang diinginkan. Penelitian menemukan bahwa banyaak dari individu yang melakukan diet dengan cara tidak sehat, seperti : membatasi asupan makanan (guna menurunkan berat badannya), diet protein tinggi pada laki-laki yang ingin meningkatkan masa ototnya (hanya makan makanan yang tinggi kalori), diet dua tahap (melakukan diet tinggi kalpri dan diet menurunkan berat badan secara bersamaan) seperti melakukan diet dan olahraga untuk menurunkan lemak tubuh dan meningkatkan otot. Diet akan menimbulkan efek berbahaya pada individu seperti gangguan makan, bahkan bisa gangguan mental (body image negatif).
3.      Latihan fisik, merupakan strategi yang paling utama dalam invesmen yang mendapat perhatian paling banyak dalam area body image, seperti angkat beban, bodybuilding, dan strategi perubahan tubuh lain yang dapat meningkatkan masa otot dan tubuh. latihan fisik memiliki hubungan positif dengan kepuasan tubuh (Davis et al., 1991; Hausenblas & Fallon, 2002) dan persepsi pada kemampuan olahraga, daya tarik fisik, kekuatan, dan kondisi fisik. Berolahraga untuk kesehatan dan kebugaran memiliki berkaitan dengan harga diri (McDonald & Thompson, 1992).
4.      Lainnya, seperti penggunaan pakaian dan operasi plastik. Laki-laki memilih pakaian sesuai dengan yang mereka butuhkan untuk menyembunyikan atau memperlihatkan bagian tubuh yang mereka sukai (Frith & Gleeson, 2004). Kepercayaan tubuh pada laki-laki berhubungan dengan jenis pakaian yang mereka pakai. Pada laki-laki yang memiliki tubuh kurus atau tidak berotot, akan memakai pakaian yang agak besar. Dan pada laki-laki yang memiliki tubuh dengan dada dan lengan yang berotot akan memakai pakaian yang ketat agar bentuk tubuhnya terlihat. Pakaian merupakan strategi invesmen yang terpenting yang mereka gunakan untuk mengubah penampilan mereka ketika dilihat orang lain. Selain pakaian, operasi plastik juga merupakan strategi invesmen yang digunakan laki-laki untuk mengubah penampilan tubuhnya.

2.1.2        Teori Sosiokulultural
Walaupun ada beberapa teori yang telah dikemukakan untuk menjelaskan masalah citra tubuh, banyak peneliti yang berpendapat bahwa faktor masyarakat dan budaya memiliki pengaruh yang kuat dalam membentuk, mengembangkan, dan mempertahankan masalah citra tubuh pada masyarakat. Teori sosiokultural menyebutkan bahwa masyarakatlah yang menentukan standar sosial mengenai apa yang cantik dan apa yang menarik (Heinberg, dalam Thompson 1996). Thompson (1996) juga berpendapat bahwa norma budaya memiliki peranan dalam mempengaruhi perkembangan tingkah laku dan sikap yang berhubungan dengan citra tubuh.
Teori sosiokultural juga menekankan pentingnya peran media dalam menyampaikan pesan-pesan yang berkaitan dengan harapan tentang fisik ideal. Media menyediakan informasi yang sangat banyak tentang cara memperoleh tubuh ideal, contohnya : melalui diet, olahraga dan pemakaian suplemen. Akibatnya, banyak individu yang keliru karena meyakini bahwa tubuh ideal yang ditampilkan tersebut mudah diperoleh dan hal itu mempengaruhi sikap mereka terhadap tubuhnya (Thompson et al, 1999).
Dua teori berikut ini merupakan perkembangan dari teori sosiokultural :
1.      Teori self discrepancy
Sejumlah peneliti menggunakan alat ukur yang terdiri dari perbandingan ukuran tubuh yang dipersepsikan dalam gambar skema dengan ukuran ideal yang dipilih (Fallon & Rozin, 1985 dalam Thompson 1999). Berdasarkan penelitian ini dan besarnya tekanan sosial budaya mengenai berat badan dan penampilan tubuh ideal, Thompson (1999) menyusun hipotesis self-ideal discrepancy untuk menjelaskan perkembangan gangguan citra tubuh. Teori ini menekankan pada kecenderungan individu untuk membandingkan penampilan yang mereka persepsikan dengan standar ideal yang mereka imajinasikan atau standar ideal lain.
Teori self discrepancy menghubungkan jarak antara persepsi konsep diri individu dengan standar pribadi individu tersebut. Kesenjangan diri terfokus pada kecenderungan individu untuk membandingkan penampilan yang mereka persepsi (aktual) dengan penampilan ideal yang mereka bayangkan atau orang lain yang ideal (Cash & J.K Thompson, 1999).
Ideal self  adalah representasi mental dari harapan, mimpi dan aspirasi seseorang dan self seringkali berupa image diri abstrak di masa datang, sehingga dapat berubah-ubah sebagai suatu standar dalam perbandingan dengan self real. Jika terdapat diskrepansi antara real dan ideal self, individu akan merasa kecewa, frustasi, sedih atau merasa ada kebutuhan yang tak terpenuhi. Pada kasus yang ekstrim, individu dapat jadi depresi (Higgins, et al, 1986.)
Berdasarkan teori ini, individu yang mempersepsi dirinya cocok dengan yang ideal akan memiliki diskrepansi yang kecil sehingga memiliki citra tubuh yang posittif. Namun pada individu yang merasa dirinya tidak cocok atau memiliki diskrepansi yang besar dengan gambaran ideal, akan memiliki citra tubuh yang negative (Henderson-King, 1997;dalam domil, 2003).

2.      Teori social comparisons
Teori social comparisonsi (perbandingan social) dari Festinger (1954) menyatakan bahwa seseorang mengevaluasi kemampuan dan opini dirinya dengan membandingkannya terhadap orang lain. Menurut Festinger (1954, dalam Thompson 1996) manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk mendapatkan informasi mengenai dirinya melalui proses perbandingan social. Proses ini terjadi ketika individu merasakan ketidakpastian atau ketidakjelasan akan kemampuan atau opininya dan tidak tersedia fakta yang objektif mengenai hal tersebut. Individu akan membandingkan dirinya dengan individu lain yang serupa (similar other) yang relevan (Goethals & Darley, 1977;C.T. Miller, 1984; Wheeler, et al., 1982 dalam Milfa Y.,2005). Goethals & Darley (1977 dalam Milfa Y.,2005) mendefinisikan similar other sebagai individu yang memiliki atribut, sifat atau latar belakang yang berhubungan dengan subyek. Misalnya, kesamaan dalam hal kondisi fisik, kemampuan, opini, latar belakang budaya dan lain-lain.
Berdasarkan target yang dipilih dalam social comparison, maka perbandingan yang terjadi dapat berupa upward comparisons atau downward comparisonsi. Upward comparisons adalah perrbandingan-perbandingan terhadap target yang dipersepsikan superior dalam hal yang dibandingkan, sedangkan downward comparisons adalah perbandingan yang dilakukan terhadap target yang dipersepsikan inferior dalam hal yang dibandingkan. Sejumlah penelitian menemukan upward comparisons sering berhubungan dengan meningkatnya stress emosional dan menurunnya harga diri (Thompsson, 1996).
Teori social comparisons menyebutkan bahwa seseorang membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain dan image lain yang mereka lihat mewakili tujuan yang dapat dicapai. Proses perbandingan ini terjadi ketika seseorang merasa bahwa image ideal itu adalah similar other sehingga model dijadikan target social comparisons. Namun ketika ia merasa image ideal adalah yang tidak realistis dalam hal daya tarik fisik, mungkin ia tidak membandingkannya dirinya dengan image tersebut karena merupakan dissimilar other.
Sebuah penelitian menemukan bahwa kecenderungan untuk membandingkan penampilan fisik dengan orang lain tampaknya berhubungan kuat dengan ketidakpuasan tubuh (Striegel-Moore, McAvey & Rodin, 1986 dalam Thompson 1999). Skor yang tinggi dalam kecenderungan membandingkan penampilan fisik dengan orang lain sepertinya berhubungan dengan skor yang tinggi dalam gangguan pada makan, harga diri, serta ketidakpuasan tubuh (Heinberg & Thompson, 1992 dalam Thompson 1999). Subyek yang membandingkan dirinya dengan orang lain yang lebih similar (seperti teman) menunjukkan kecemasan dan stress yang lebih tinggi disbanding subjek yang membandingkan diri dengan orang lain secara umum, baik perbandingan berupa upward maupun downward.

1 komentar: