Sabtu, 16 Maret 2013

KELUARGA



Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat. Dalam  keluarga terdapat individu-individu yang memiliki hubungan kerabat dan latar belakang sosial, budaya, nilai & kepercayaan yang sama. Keluarga merupakan tempat tumbuh kembang individu yang pertama baik fisik maupun psikis. Keluarga diharapkan mampu memberikan dukungan yang baik pada tahap tumbuh kembang individu Keluarga memiliki nilai dan budaya yang ditetapkan bersama dan diselaraskan dengan norma dan budaya masyarakat setempat. Penempatan budaya keluarga yang baik akan memberikan kondisi yang positif bagi diri individu.
Menurut Duvall, keluarga merupakan sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi, kelahiran yang bertujuan untuk meningkatkan dan mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental,emosional dan social dari tiap anggota.
Keluarga terdiri dari dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah, perkawinan atau adopsi. Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika berpisah mereka tetap memperhatikan satu sama lain Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing-masing mempunyai peran social, suami, isteri dan anak. Keluarga mempunyai tujuan, menciptakan dan mempertahankan budaya, meningkatkan  perkembangan fisik, psikologis dan social anggota.
Menurut Duvall, terdapat 8 (delapan) tugas perkembangan keluarga dengan anak pertama pra-sekolah, diantaranya:
1.    Supplying adequate space, facilities, and equipment for the expanding family.
Kondisi rumah sangat penting untuk tumbuh kembang anak pra-sekolah dan untuk privasi kedua orang tuanya. Kurangnya akomodasi yang memadai dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak dan perkembangan keluarga itu sendiri yang dapat menyebabkan timbulnya masalah. Kondisi rumah yang tidak efisien dan kurangnya perlegkapan rumah tangga yang memadai dapat membuat tuugas ibu rumah tangga menjadi semakin berat sehingga ibu rumah tangga dapat mengalami kesulitan dalam membagi waktunya antara mengurus anaknya dengan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Selain itu, orang tua dengan anak pra-sekolah juga membutuhakan privasi tersendiri tanpa melibatkan anak sehingga fasilitas yang ada di rumah juga harus tetap diperhatikan.

2.    Meeting predictable and unexpected costs of famiy life with small children.
Di Amerika, mayoritas ibu dengan anak pra sekolah bekerja namun beberapa diantara mereka juga ada yang bekerja paruh waktu. Alasan mereka bekerja diantaranya ikut membantu suami menambah pemasukan untuk keluarganya atau dikarenakan pemasukan hanya benar-benar bergantung pada mereka. Jika keluarga tersebut memiliki pendapatan yang cukup maka keuangan keluarga akan lebih mudah diatur. namun sebaliknya pada keluarga dengan pendapatan yang tidak menentu maka akan dirasa sulit untuk mengatur keuangan keluarganya.
Anak pada usia pra-sekolah ini sangat sulit untuk diprediksi misalnya jika anak sakit, karena pada usia ini anak rentan sekali dengan penyakit. Sehingga pengaturan dalam keuangan dan pendapatan dalam keluarga sangat diperlukan.
Untuk keluarga yang memiliki anak dengan kelaianan tertentu juga dibutuhkan dukungan emosional dan perhatian yang lebih pada anaknya. selain itu biaya yang diperlukan untuk perawatan anak dengan kebuthan khusus juga lebih besar sehingga keluarga tersebut perlu mengatur keuangan dengan lebih baik lagi.

3.    Assuming more mature roles within the expanding family.
Tanggung jawab sebagai ibu muda untuk mengurus anak dan rumah tangganya telah menjadi pandangan umum dalam masyarakat. Akan tetapi, saat ini tanggung jawab tersebut sudah harus mulai terbagi antara anggota keluarga yang sudah dewasa dan yang sedang berkembang atau tumbuh. Dengan kata lain ayah, ibu dan anak memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing.
Ayah dengan anak pra-sekolah biasanya lebih banyak menghabiskan waktunya diluar rumah untuk bekerja. Namun sebenarnya kehadiran sangat dibtuhkan dalam perkembangan anak. Dimana anak sudah mulai belajar mengidentifikasi perilaku orangtuanya. Ketika anak mengidentifikasi tingkah laku orang tuanya dengan jenis kelamin yang sama, orang tua sebaiknya tidak boleh marah, melarang atau bahkan mengejeknya. Sebaiknya orang tua memberikan pengertian pada anak.
Anak pra-sekolah sudah cukup mampu untuk memahami tanggung jawabnya sebagai anggota keluarga misalnya seperti memakai pakaian sendiri dan membereskan mainan setelah bermain.
Apabila keluarga berhasil melewati tugas perkembangan ini dengan baik maka keluarga akan menjadi keluarga yang bahagia serta memiliki integritas yang baik.

4.    Maintaining mutually satisfying intimate communication in the family.
Ketika sebuah keluarga akan memiliki anak kedua, hal tersebut dipandang akan memiliki efek yang negatif bagi pasangan misalnya tanggung jawab yang semakin besar serta berkurangnya privasi bagi mereka berdua. Pasangan yang baru memiliki satu orang anak berfikir bahwa situasi akan lebih baik ketika anak beranjak dewasa dimana ia sudah mampu belajar lebih mandiri, berkurangnya kelelahan fisik pada pasangan yang diakibatkan kesibukan dalam mengurus dan menjaga anak ketika kecil.
Menemukan waktu dan tempat yang sesuai untuk pasangan tanpa melibatkan anaknya yang masih berusia pra-sekolah dirasa lebih sulit ketika anak itu masih kecil karena ia membutuhkan perhatian yang lebih. Oleh karena itu, agar dapat melewati tugas perkembangan ini dengan baik, adanya komunikasi yang baik diantara pasangan juga diperlukan agar hubungan tetap harmonis.

5.    Rearing and planning for children.
Ada dua aspek kesulitan dalam membesarkan anak pada masa ini :
1.      Membantu perkembangan konsep diri pada anak yang positif, dan
2.      Mengatasi kemarahan anak.
Pada usia anak pra sekolah perkembangan bahasa lebih cepat dibandingkan ketika mereka mulai bicara. Penelitian menemukan bahwa tipikal pembelajaran anak pra sekolah menggunakan ribuan kata baru pada setiap tahunnya dan itu digunakan untuk melengkapi pembentukan kalimat pada setiap waktu mereka (McCarthy, 1954).
Dengan adanya kehadiran anak kedua, orang tua harus menyiapkan ruangan baru untuk anak pertamanya. Anak kedua membutuhkan perhatian yang lebih besar dari pada anak pertama tetapi hal tersebut bukanlah bukti bahwa orang tua lebih mencintai anak yang kedua. Kedua orang tua mencintai anak-anaknya dan juga memberikan kasih sayang yang sama kepada anak-anak. Dalam kelahiran anak kedua orang tua merasa akan adanya persaingan antara anak pertama dan anak kedua yang menimbulkan kecemasan pada orang tua. Tetapi kedua orang tua menemukan jalan keluar yang baru bagi masalah yang mereka hadapi mengenai pembagian kasih sayang. Orang tua berharap bahwa anak yang pertama bisa menerima kehadiran adiknya tanpa memaksa. Orang tua lebih mengajarkan kemandirian kepada anak tertua untuk membiasakan mandi dan makan sendiri setelah memiliki adik.
Kecemburuan yang dimilki anak pertama lebih besar pada adiknya dimana ketika belum memiliki adik ia mendapatkan seluruh perhatian dan kasih sayang namun pada saat memiliki adik kedua hal tersebut dirasakan kurang.
Orang tua juga bertugas untuk memberikan pendidikan sex pada anak. Dimana orang tua bertugas menjelaskan fungsi bagian-bagian dari tubuhnya, hal ini dapat diberikan melalui berbagai media komunikasi seperti buku atau membaca diperpustakaan.

6.    Relating to relatives.
Ketika anak kedua lahir dan orang tua memiliki kesibukan kerja maka anak yang pertama memilki kemungkinan untuk dititipkan kepada nenek, kakek, paman atau bibinya. Biasanya nenek atau kakek mereka lebih memanjakan ketika mengurus cucunya. Sebagian anak lebih menikmati keberadaan mereka ketika berada dalam asuhan nenek atau kakek dan mereka berkata ”aku lebih senang berada dirumah nenek karena nenek lebih memanjakan.”

7.    Tapping resources outside the family.
Satu kesulitan yang dihadapi oleh orang tua muda ketika sibuk bekerja adalah bagaimaa cara mereka membagi waktu untuk anak-anak mereka. Ketika orang tua meluangkan waktu maka orang tua melakukan rekreasi seperti ke taman bermain dan kebun binatang.

8.    Motivating family members.
Beberapa masalah mulai timbul ketika anak kedua mulai tumbuh. Kirkpatrick menyebutkan beberapa masalah yang yang akan timbul dalam kehidupan keluarga, antara lain :
1.      Kebebasan versus Aturan
2.      Kebebasan mengekspresikan diri versus Ketetapan tujuan dan harapan
3.      Ekspresi diri versus Membesarkan anak
4.      Prestasi kerja versus Pemilihan kasih sayang
5.      Pelatihan yang fleksibel terhadap pengasuhan anak versus Pengasuhan anak yang kaku
6.      Tingkatan aspirasi yang tinggi untuk anak versus Kenyataan yang ada
7.      Kesetian keluarga versus Kesetiaan kelompok
8.      Perkumpulan sederhana yang luas versus Keintensipan batasan dalam perkumpulan
Konflik yang timbul dalam keluarga seperti biaya hidup selalu menjadi pertanyaan. Konsep kehidupan kelurga pada umumnya mengalami perubahan. Beberapa faktor yang masuk kedalam proses ini adalah :
1.      Penjumlahan dari setiap anggota baru.
2.      Memunculkan cara yang lain pada pandangan kehidupan dalam kelompok dan diantara perkumpulan mereka.
3.      Ide baru dan kesadaran dari anggota keluarga yang lain (dalam perkumpulan dengan mereka dalam pendidikan, pengetahuan, sosial, agama dan lainnya)
4.      Menjaga rasa kebahgiaan yang dulu dan sekarang.
5.      Berbagai macam stress, ketegangan, dan perubahan kehidupan mereka dalam menghadapi masalah-masalhn dilihat dari kehidupan dimana mereka tinggal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar